Portofolio ini mendokumentasikan perjalanan dan kompetensi saya sebagai Calon Guru Informatika Profesional, mulai dari penyusunan perangkat pembelajaran, praktik mengajar, analisis artefak, hingga refleksi pengembangan diri.

Berasal dari Jambi dengan darah Sumatera Selatan, saya dibesarkan dalam budaya Melayu yang kental. Perpaduan nilai adat Melayu dan semangat modernitas dalam pendidikan membentuk identitas saya.

Filosofi Melayu "Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah" menjadi fondasi saya. Informatika menjadi jembatan antara kearifan lokal Melayu dan inovasi teknologi modern.

Menjadi guru Informatika yang mampu mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, dan membentuk karakter siswa yang adaptif di era digital.
LPTK UNP, pusat pelaksanaan program PPG Informatika.
Sekolah tempat pelaksanaan PPL Terbimbing Informatika.
"Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think."
Kutipan ini sangat relevan dengan pembelajaran Informatika. Tugas saya bukan membuat siswa menghafal sintaks, melainkan melatih mereka berpikir komputasional agar mampu memecahkan masalah di era digital.
Berikut adalah artefak-artefak perangkat dan hasil pembelajaran yang telah saya susun dan implementasikan selama PPL Terbimbing.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran · 3 Dokumen
RPP disusun untuk mata pelajaran Informatika kelas X dengan mengacu pada Kurikulum Merdeka Deep Learning. Tujuannya memastikan pembelajaran terstruktur dan terukur.
Media Pembelajaran Digital · 8 Media
Media pembelajaran digital dikembangkan untuk meningkatkan engagement dan pemahaman konsep Informatika melalui situs pembelajaran interaktif.
Contoh Hasil Project-Based Learning · 15 Contoh
Dokumentasi hasil kerja siswa menunjukkan penerapan project-based learning. Siswa diminta membuat produk digital sederhana.
Penilaian perangkat pembelajaran oleh Guru Pamong dan Dosen Pembimbing Lapangan.
Preview PDFPenilaian praktik mengajar di kelas selama PPL Terbimbing di SMAN 2 Padang.
Preview VideoSiswa membangun pengetahuan melalui pengalaman. Guru sebagai fasilitator.
Menyesuaikan pembelajaran sesuai kebutuhan dan kesiapan setiap siswa.
Memanfaatkan teknologi sebagai ruang kolaborasi dan kreasi siswa.
Menjadi orang Melayu di tanah Minangkabau mengajarkan saya pentingnya adaptasi budaya dalam pendekatan pembelajaran agar lebih dekat dengan siswa.
Mulai menerapkan diferensiasi konten dan proses. Hasilnya, engagement kelas meningkat signifikan.
Mengimplementasikan penilaian autentik berbasis proyek. Siswa membuat produk digital yang relevan.
Filosofi Melayu ini sangat membentuk cara pandang saya. Adat yang kokoh menjadi fondasi, dan syarak menjadi pedoman moral. Inovasi teknologi di kelas harus tetap berlandaskan nilai-nilai luhur dan etika. Saya belajar memadukan tradisi Melayu dari Jambi dan Sumsel dengan semangat belajar di ranah Minangkabau, menyadari bahwa tujuan kita sama: mencerdaskan kehidupan bangsa.
Momen-momen pembelajaran, praktik, dan interaksi bersama siswa SMAN 2 Padang selama pelaksanaan PPL Terbimbing.



